DIROSAH NUSHUSH

KAJIAN-KAJIAN TENTANG NASH AL QUR’AN)
I. العام والخاص ( LAFAT YANG UMUM DAN YANG KHUSUS )
Dalam hukum Islam mempunyai sasaran yang jelas adakalanya ayat (nash) yang diperuntukka umum dan ada yan khusus
A. Pengertian ‘Am ( lafadz yang berbentuk umum)
‘Am ( العام ) adalah lafadz yang mencakup segala apa yang pantas baginya tanpa adanya batasan .
Dalam hal ini terjadi berbedaan pendapat di antara ulama’,sebagian besar ulama’ berpendapat bahwa ada kalanya ayat yang bersifat umum namun ada kalanya dipakai secara majas pada yang lain ,dengan argumen Dalil tekstual ( nashshiyah) dan kontekstual ( ma’nawiyah )
1. Dalil yang sifatnya umum namun sebagian tidak termasuk didalamnYA
45. dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya anakku Termasuk keluargaku, dan Sesungguhnya janji Engkau Itulah yang benar. dan Engkau adalah hakim yang seadil-adilnya.”
46. Allah berfirman: “Hai Nuh, Sesungguhnya Dia bukanlah Termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan),(Hud 45-46)
Aspek yang dijadikan dalil di atas Nabi Nuh memohon kepada Allah dengan permohonan tersebut karena ia berpegang pada ayat:
    
Artinya : Sesungguhnya Kami akan menyelamatkan kamu dan pengikut-pengikutmu, ( Al Ankabut 33)
Jadi kata keluarga diidhofahkan ke umum.tdk untuk keluarganya
2.Dalil-dalil Ijmaiyah.
yakni dalil-dalil yang telah menjadi ijma’sahabat
• •  •     
Artinya :Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, ( An Nuur 2)
3.Dalil-dalil ma’nawiyah.
Ialah dalil ma’na umum dapat dipahami dengan penggunaan lafadz syarat istifham( pertanyaan ) dan mausul ( kata penyambung ) tanpa kata tersebut lafadz tidak bisa difahami
        
Artinya :Katakanlah: “Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa ( Al’An’am 91)
Ayat ini menyanggah orang yahudi yang berkata:
      
Artinya : “mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia”. Katakanlah: ” (Al An’am 91 )
Ini menunjukkan bahwa nakiroh setelah nafi adalah ma’na umum
Atas dasar ini makna umum mempunyai bentuk ( sighot) tertentu:
a. Kata Kull pada ayat :
    
Artinya : Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. ( Ali Imron 185)
b. Lafadz yang dima’rifatkan dengan “Al” yang bukan al ‘ahdiyah
( waktu)
  •    
Artinya :1. demi masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
( Al ‘Ashr 1,2 ).
c. Isim nakiroh dalam kontek nafi dan nahi
         
Artinya :, Maka tidak boleh rafats[123], berbuat Fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji..(Al Baqoroh 197)
d. Alladzi dan allatii serta cabang-cabagnya
    
Artinya : Dan terhadap dua orang yang melakukan perbuatan keji di antara kamu, Maka berilah hukuman kepada keduanya, ( Annisa’16 )
e. Semua isim syarat.
             
Artinya :Maka Barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-‘umrah, Maka tidak ada dosa baginya[103] mengerjakan sa’i antara keduanya.(Al Baqoroh 158. )
f. Ismu Al Jins ( Kata jenis )yang disandarkan pada isim ma’rifat
     
Artinya : Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya ( An Nur 63)
B. Macam-macam lafadz Umum
Lafadz yang bersifat umum ( (العام terbagi menjadi 3 macam
1. Umum yang tetap dalam keumumannya ( AlBaqi’ ala ummihi ) contoh :     
Artinya : Allah Maha mengetahui segala sesuatu. ( Annisa’176 :Az Zarkasyi dalam Al Burhan)
2. Umum yang dimaksud adalah khusus ( Al Am Al Murod bihi Al Khusus)
Contoh:
   •• • ••    
Artinya:(yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia[250] telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka( Ali Imron 173)
Yang dimaksud Annas yang pertama Nu’aim bin Mas’ud dan Annas yang ke dua adalah Abu Sufyan.
3. Umum yang dikhususkan ( Al Am Al Makhsus)
Contoh :
  ••         
Artinya : Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang yang sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitullah ( Ali Imron 76 )
C. Perbedaan antara lafadz umum yang bermakna khusus dengan lafadz umum yang dikhususkan
Hal ini dapat dilihat dari:
1. Al Am Al Murod bihi Al Khusus . Dipastikan tidak mencakup semua individu. contoh kewajiban hajji hanya meliputi orang yang mampu saja diantara mereka secara khusus
2. Al Am Al Murod bihi Al Khusus. Dapat dipastikan mengandung majas karena telah beralih dari ma’na yang asli dan dipergunakan untuk bagian satu-satuan saja.
3. Qorinah.( ciri) bagi yang pertama umumnya bersifat rasional ( Aqliyah),dan tidak pernah terpisah sedang ciri yang kedua bersifat hanya lafdziyah dan terkadang terpisah
D. Pengertian khos dan Mukhoshshish.
Khosh ( khusus) adalah lafadz yang tidak bisa mencakup semua yang dimaksudz oleh lafadz dan terbatas,sedangkan taksish adalah mengeluarkan sebagian apa yang dicakup lafadz am dan mukhoshshish ( yang mengkhususkan ) terkadang muttasil ( antara am dan mukhoshish tidak dipisah ) oleh sesuatu hal tetapi juga adakalanya munfasil ,kebalikan dari muttasil
Muttasil ada lima:
1.Istisna’( Pengecualian) seperti dalam ayat An Nur 4 dan 5
                           ……
1. Menjadi sifat:
               (Annisa’ 23 )
Lafaz : Allatii dakholtum Bihinna adalah sifat bagi lafadz nisaikum.maksudnya anak perempuan istri yang telah digauli adalah haram dinikahi oleh suami dan halal bila belum digauli.
2. Menjadi syarat. Misalnya dalam lafadz: Al Baqoroh 180)
3. Sebagai ghoyah Seperti dalam ayat; Al baqoroh 196
4. Sebagai badal Ba’ad
E. Menghususkan takhsishi Assunah dengan Al Qur’an
Terkadang ayat Al Qur’an menghusususkan keumumannya Asunnah
Contoh; Hadits Riwayat Abu waqid Al Laitsi RA Nabi bersanda: “bagian apa saja yang dipotong dari hewan ternak hidup maka adalah bangkai “
Hadits ini di taksish ayat Al Qir’an
An Nahl ayat 80 .yang berbunyi :”Dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu
pakai) sampai waktu (tertentu).”

II. المطلق والمقيّد (AL MUTLAQ WAL MUQOYYAD)
A. Pengertian:
1. Mutlaq adalah: Lafadz yang menujukkan hakekat asli tanpa ikatan apapun biasanya nakiroh Contoh lafadz رقبة dalam ayat فتحر ير رقية ( sifatnya umum bisa laki-laki bisa perempuan ,mukmin ,kafir)
2. Muqoyyad. Lafadz yang menunjukkan hakekat dengan ikatan
Contoh : lafadzمؤمنة رقبة
Dalam ayat مؤمنة فتحر ير رقية
B. Pembagian Mutlaq dan Muqoyyad
1. Mutlaq Muqoyyad yang disatukan oleh satu sebab dan satu hukum
Contoh: Puasa kifarat dalam hal melanggar sumpah, pada lafadz
فصيام ثلاثة ايّام sebagai mutlaq yang dikat dengan lafadz متتابعان ( berturut-turut) sebagai muqoyyad ,Menurut Ibnu Mas’ud karena tidak mutawatir maka berkedudukan tetap mutlaq
2. Satu Sebab Beda Hukum
Contoh : وايدكم الئ المرافق dalam wudhu
وايدكم منه dalam tayamum
Satu sebab,sama-sama membasuh kedua tangan namun hukumnya beda satu wudhu dan satunya tayamum
3. Beda sebab satu hukum.
Ada dua macam:
a. Ikatannya 1( satu)
Contoh lafadz مؤمنة فتحر ير رقية ( supaya memerdekakan hamba) yang diikat oleh mukminatin
Ayat tersebut hukumnnya satu yaitu kifarat untuk dhihar dan tidak mutlaq untuk Qital (قتل )
b. Ikatannya beda
Contoh ; QS An Nisa’ 92 )
             
( Kata yang bergaris Muqoyyad)
             (Al Baqoroh 196)
4. Beda sebab beda hukum:
Contoh : ayat dalam wudhu dan pencurian
– Wudhu Muqoyyad karena sampai ke siku (الي المرا فق )
– Dalam pencurian mutlaq ( Al Maidah 38)

III. المنطوق والمفهوم AL MANTHUQ WL MAFHUM
A. Pengertian Manthuq dan pembagiannya
1. Pengertian Manthuq adalah Arti yang tersurat ,yaitu Suatu makna yang ditunjukkan oleh lafadz yang diucapkan
2. Pembagian Manthuq
a. Manthuq yang berupa nash dhohir dan muawwal
Nash ialah lafadz yang bentuknya sendiri telah dapat menunjukkan makna yang dimaksud secara tegas atau shorih tidak mengandung kemungkinan makna lain.
Contoh : QS AL Baqoroh 196
             
Dhohir ialah lafadz yang menujukkan sesuatu makna yang segera difahami ketika ia diucapkan yang kemungkinan bisa menunjukkan makna lain
Contoh :Al Baqoroh 173
       
Artinya :Tetapi Barangsiapa dalam Keadaan terpaksa (memakannya) sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas,
Lafadz “Al bagh “digunakan untuk makna Al jahil ( bodoh,tidak tahu)
Muawwal adalah lafadz yang diartikan dengan makna marjuh karena ada dalil yang menghalangi makna yang rojih
Contoh: QS Al Isro’ 24
     
Artinya :Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan

b. Penunjukan makna secara iqtidla’dan isyarah
Pengertian iqtidla’dan isyarah
Dalalah iqtidla’ adalah Shohihnya ma’na yang bergantung pada ma’na yang tidak disebutkan .
contoh : QS Al Baqoroh ayat 184)
 •              
Artinya :yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.

Ayat tersebut memerlukan ayat yang tidak disebutkan yaitu” fa afthoro fa’idah …”(lalu ia berbuka)
Dalalah Isyarah adalah Shohihnya ma’na yang tidak bargantung pada lafadz yang disebutkan misalnya pada QS Al Baqoroh ayat 187
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembagian Mantuq ada lima: 1. Nash
2. Dhohir
3. Muawwal
4. Iqtidla
5. Isyaraoh
B. Pengertian Mafhum dan pembagiannya
1. Pengertian Mafhum adalah makna yang ditunjukkan oleh lafadz tidak berdasarkan bunyi pada ucapan
2. Pembagian Mafhum:
a. Mafhum Muwafaqoh: ialah ma’na yang hukumnya sesuai dengan manthuq .ini di bagi menjadi dua
1)Fahwal khithob ialah makna yang dipahami itu lebih utama diambil hukumnya dari pada manthuq
contoh: QS Al isro’ 23 manthuq dalam ayat ini adalah haramnya mengatakan ‘ah pada orang tua
2) Lahnul Khitob ialah apabila hukum mafhum sama nilainya dengan hukum manthuq .
Contoh QS Annisa’ ayat 10
b. Mafhum Mukholafah adalah ma’na yang boleh berbeda hukumnya dengan manthuq ,maghum ini dibagi menjadi:
1). Mafhum sifat ialah ma’na yang berbeda hukumnya dengan manthuq,Mafhum ini dibagi tiga
a). Mustaq ( ayat yang langsung diterima )
b). Hal (Keterangan keadaan: misalnya dalam ayat pembunuhanQS. Al Maidah 95)
c). ‘Adat ( Bilangan) Misalnya masalah musim HajjiQS Al Baqoroh 197
2). Mafhum syarath ( pemahaman dengan syarath) contoh :QS Ath Tholaq 6.
“Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, Maka berikanlah kepada mereka nafkahnya “ ma’na mafhum istri yang tidak hamil tidak diberi nafkah
3). Mafhum ghoyah (Pemahaman dengan batas maksimal)
Contoh : Qs Al Baqoroh 230
“kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga Dia kawin dengan suami yang lain.”
Mafhumnya adalah Istri tersebut halal bagi suami pertama setelah ia nikahi dengan suami yang lain,dengan memenuhi syarat-syarat pernikahan.
4). Mafhum Hasyr (Pemahaman pembatasan minimal)
Contoh: QS Al Fatehah ayat 5
“Hanya Engkaulah yang Kami sembah[6], dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan”.
Mafhumnya adalaha selain Dia tidak ada yang patut dimintai pertolongan
3. Perbedaan Pendapat dalam berHujjah dengan mafhum
1) Masalah validitas Hujjah dengan mafhum boleh dipakai Hujjah dengan syarat :
a. Apa yang disebutkan tidak keluar dari kebiasaan umum contoh : QS An Nisa’ 23
“Dan anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu”
Pada umumnya anak-anak istri ada dalam pemeliharaan suami
b. Apa yang disebutkan tidak menjelaskan suatu kenyataan yang ada contoh : QS Al Mukminun 117
“Dan Barangsiapa menyembah Tuhan yang lain di samping Allah, Padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, “
Dalam kenyataan Tuhan manapun selain Allah tidak ada memiliki argumet yang jelas
2) Masalah berhujjah dengan mafhum Muwafaqoh lebih ringan karena para ulama’ telah sepakat,kecuali penganut madzhab dhohiri.
3).Mafhum Mukhofafah hanya diakui oleh Imam malik,Syafi,i dan Ahmad sementara Abu Hanifah dan pengikutnya

Posted on March 18, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: